Sabtu, 19 Mei 2012

Kendala Penerapan Terapi Aba (Applied Behavior Analisys) Terhadap Kemandirian Anak Retardasi Mental/Gdd Di Pusat Terapi Terpadu A Plus ______________ 103


Dalam kehidupan ini terkadang kita sering menemukan suatu yang tidak sesuai
dengan yang kita inginkan, adanya halangan dan kendala merupakan suatu yang lumrah
untuk menyelesaikan masalah yang kita hadapi begitu juga dalam penerapan suatu terapi
ABA dalam penyembuhan anak retardasi mental, Terapi ABA merupakan suatu bentuk
modifikasi perilaku melalui pendekatan perilaku secara langsung, dengan lebih
memfokuskan pada perubahan secara spesifik, baik berupa interaksi sosial, bahasa dan
perawatan diri sendiri. Retardasi mental adalah suatu keadaan dengan intelegensi yang
kurang sejak masa perkembangan (sejak lahir atau sejak masa anak). Penerapan metode
ABA mulai berkembang pada perkembangan anak sejak dini, sehingga peneliti Berpijak
pada uraian tersebut, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan
pelaksaaan terapi ABA pada anak retardasi mental, mendeskripsikan kendala apa yang
dihadapi dalam menggunakan terapi ABA dan mendeskripsikan upaya-upaya yang
dilakukan A Plus untuk mengatasi kendala dalam penerapan terapi ABA terhadap
kemandirian anak retardasi mental.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif karena penelitian ini
menjelaskan keadaan atau fenomena di lapangan yang dikumpulkan melalui observasi,
wawancara dan dokumentasi. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 3 orang subyek.
Dari data yang dikumpulkan dianalisa dengan menggunakan teknik analisa deskriptif,
yaitu berusaha memaparkan hasil penelitian sebagaimana adanya sesuai dengan data yang
dikumpulkan dan dilanjutkan dengan menarik kesimpulan dengan membandingkan
keadaan lapangan dengan standar buku yang mangacu pada teori yang ada.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan metode ABA di A plus
merupakan metode utama yang tidak terlepas dari metode pendukung lainnya kendala
penerapan terapi ABA di pusat terapi terpadu A plus terletak pada intensitas terapi yang
pendek, anak kurang bisa memahami instruksi/materi yang diberikan,lamban dalam
merespon instruksi, penolakan anak terhadap materi, kemampuan merawat diri yang
kurang sehingga anak selalu tergantung pada orang lain, serta kurangnya dukungan
orangtua.
Upaya-upaya yang dilakukan oleh pihak pengelola dan terapis untuk mengatasi
kendalanya adalah dengan memberikan materi secara bertahap, melakukan
disensitisas,pada anak yang merasa tidak nyaman ketika terapi dan menyajikan materi
secara kreatif (tidak monoton), mengulang-ulang instruksi ketika anak masih belum
memahami instruksi yang diberikan, mencari tahu penyebab anak menolak materi agar
terapis dapat mengambil tindakan yang tepat untuk anak yang memiliki kekurangan
kemampuan merawat diri terapis akan lebih sering memberikan program terapi atau
pelatihan yang bersifat praktis, menganjurkan orangtua untuk mengulang materi yang
telah diberikan oleh terapis ketika anak berada di rumah; untuk orangtua yang benarbenar
tidak peduli pada perkembangan anaknya, maka pihak pengelola pusat terapi
terpadu A plus akan memberitahukan permasalahan yang dihadapi anaknya dan
memberikan solusi atas permasalahan tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar