Senin, 21 Mei 2012

Pembentukan Identitas Seksual Kaum Gay 155


Dewasa ini, sebagian besar masyarakat masih melihat kaum gay sebagai
sesuatu yang keluar dari koridor heteronormativitas. Perilaku gay bahkan
dianggap sebagai penolakan terhadap takdir. Dalam kehidupan nyata,
keberadaannya senantiasa disingkirkan dan dibedakan dengan heteronormativitas.
Gay merupakan sebuah identitas yang dialamatkan pada seorang laki-laki
yang mempunyai pola hubungan cinta, kasih sayang, dan erotisme seksual pada
sesama laki-laki. Sebagian besar dari mereka masih menutupi identitas seksual
yang sebenarnya, karena banyaknya konsekuensi buruk yang akan mereka terima
ketika harus mengakuinya. Dengan berbagai siasat, hingga kini mereka bisa tetap
mempertahankan identitas seksualnya.
Penelitian ini hendak mengetahui bagaimana proses seorang gay
membentuk identitas seksualitasnya, secara lebih rinci ingin mengetahui
bagaimana dia mampu mendefinisikan diri sebagai seorang homoseksual di
tengah kuasa wacana heteroseksual yang ada di masyarakat. Selain itu juga ingin
mengetahui bagaimana mereka mempertahankan identitas seksualnya di tengahtengah
tuntutan normatifitas masyarakat.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif
deskriptif. Pendekatan yang digunakan adalah fenomenologi. Peneliti memandang
bahwa untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif tentang kehidupan
gay, fenomenologi adalah pendekatan yang tepat sebab disana peneliti dituntut
untuk lebih dalam ketika mendekati dan menyelami kehidupan subjek.
Peneliti banyak menggunakan teori pembentukan identitas seksual gay yang
digagas oleh tokoh psikoanalisis pos-strukturalis Jaques Lacan. Selain itu untuk
memperlengkap pemahaman akan identitas diri dan seksualitas digunakan juga
pandangan tokoh-tokoh Cultural Studies, seperti Stuart Hall, Manuel Castells,
Anthony Giddens, dan lain sebagainya. Beberapa teori tersebut dirasa sangat
penting sebagai penghantar pemahaman terhadap identitas seksual.
Dari hasil penelitian diperoleh beberapa media yang membantu gay untuk
mendefinisikan diri akan seksualitasnya, antara lain melalui wacana dari
terminologi gay, pengalaman pelecehan seksual dan keberadaan komunitaskomunitas
gay. Sedangkan strategi bagi gay untuk tetap bisa eksis
mempertahankan identitas seksualnya, yaitu dengan cara sembunyi-sembunyi atau
tidak mengakui identitas seksual yang sebenarnya, melakukan pernikahan secara
hetero, dan bisa melakukan beberapa peran sesuai dengan kondisi, waktu atau pun
tempat yang menuntut dia untuk melakukannya.
Dari cara yang dilakukan oleh kaum gay tersebut peneliti analisis dengan
politik identitas. Politik identitas ini sebagai siasat untuk menyembunyikan
identitas yang sebenarnya ketika situasi tidak mendukung bagi dirinya. Walaupun
seorang gay sudah mengakui identitas seksualnya dikalangan teman-temannya
namun belum tentu dia juga mengakui diantara keluarga atau lingkungan dia
bekerja.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar